Informasi

Guide
Health Info
Knowledge
Policy

> Penanganan Penderita HIV/AIDS

Penanganan Penderita HIV/AIDS

Dulu banyak kalangan masih beranggapan penyakit AIDS adalah  penyakit yang jauh dari sisi masyarakat kita. Bayangan tentang penyakit ini masih di awang – awang, hanya sebatas di TV atau hanya terjadi di luar negeri. Namun semenjak tewasnya penderita HIV di Bali / Indonesia atau semenjak dasawarsa terakhir, penderita HIV/AIDS semakin mudah dijumpai bahkan korban meninggal akibat virus mematikan ini semakin jamak kita dengar. Ini terjadi tidak sebatas hanya pada orang – orang tenar yang memang dikenal memiliki pergaulan atau kehidupan metro, namun juga kerap terjadi pada masyarakat biasa yang tidak memiliki latar belakang kehidupan jet set yang berada disekitar kita.
Baru baru ini kejadian seperti ini kembali terjadi di kampung saya di Bangli. Seorang warga kampung saya yang terdiagnosa berdasarkan hasil Lab meninggal akibat menderita positif HIV/AIDS.  Setelah pihak  keluarganya diinformaikan bahwa pihak rumah sakit tidak dapat menolong, mereka minta pulang paksa padahal pihak rumah sakit menyarankan ke rumah sakit yang memiliki pelayanan khusus pasien HIV/AIDS. Hingga akhirnya ia meninggal di rumahnya.
Seperti kebanyakan yang sering terjadi selama ini, karena takut tertular maka warga banjar pun kompak tidak ada yang mau mendekat apalagi memandikan mayat tersebut.
Kebetulan anggota banjar saya rata – rata orang yang melek dan terdidik dan banyak diantara mereka yang bekerja di bidang kesehatan namun mereka tetap takut untuk mendekat pada mayat tersebut. Ini justru yang semakin memicu ketakutan warga khususnya masyarakat awam yang sama sekali jauh dengan pengetahuan kesehatan. Akibatnya suasanapun menjadi gamang diantara anggota banjar dan keluarga yang meninggal. Pada kesempatan ini saya  ingin menanyakan pada orang yang berkompeten mengenai beberapa hal yang terkait dengan permasalahan HIV/AIDS. Saya yakin pertanyaan seperti ini sudah sering disampaikan dan mendapat penjelasan namun saya yakin masih sering masyarakat yang ragu dan gamang terhadap penderita HIV/AIDS, sekaligus hal ini bisa menjadi pencerahan bagi masyarakat.
1.    Bagaimana sebaiknya perawatan terhadap pasien atau mayat orang yang menderita HIV/AIDS, apakah sebaiknya sepenuhnya di rawat di RS sampai meninggal sehingga perawatan mayatnya bisa dilakukan di RS dengan aman.
2.    Untuk Keamanan khusus untuk masyarakat Hindu di Bali yang mana lebih aman, mayat itu sebaiknya di bakar atau dikubur? Apakah setelah meninggal virus tersebut masih hidup di badan penderita dan berapa lama? Sebaiknya warga masyarakat diberitahu atau tidak penyebab kematiannya?
3.    Kalau ada pasien yang menderita HIV/AIDS yang sudah tidak mungkin tertolong (sekarat) seperti anggota banjar saya diatas, bagaimana sebenarnya tindakan atau prosedut tetap  pihak rumah sakit apakah membiarkan pasien tersebut dibawa pulang oleh keluarganya dan kemudian dirawat sendiri di rumahnya?
4.    Bagaimana perkembangan Virus HIV ini yang termutakhir? Karena setelah sekian lama virus ini ada, saya memiliki ketakutan virus ini telah bermutasi sehingga pola penularan virus ini telah berubah, tidak saja melalui luka atau hubungan seksual. Seperti yang terjadi pada kasus demam berdarah. Dari info yang saya baca, saat ini  nyamuk penyebab demam berdarah tidak saja menggigit pada pagi hari, namun juga malam hari. Dulu nyamuk ini  suka hidup di air jernih, namun saat ini juga hidup di air kotor. Dan ciri demam berdarahpun tidak lagi panas yang tinggi seperti dulu, hanya panas biasa  namun tiba – tiba HB nya sudah rendah. Hal seperti ini yang menjadi ketakutan masyarakat terhadap perkembangan virus HIV.
5.   
Terima kasih saya sampaikan sebelumnya, mudah - mudahan penjelasan yang diberikan nantinya bisa menjadi pencerahan dan pegangan bagi masyarakat sehingga tidak terjadi kegamangan pada masyarakat saat menghadapi kasus seperti yang dialami banjar saya.
Om Shanti shanti shanti om.


Dewa Made Sukarta
Bangli

 
  Website resmi Rumah Sakit Umum Sanglah Denpasar Bali (www.sanglahhospitalbali.com)